Secara historis, komunikasi antar arsitek dianggap sebagai suatu saluran. Setiap saluran mempunyai keran, tetapi konsep untuk dapat mematikan dan menghidupkan dialog sesuai dengan yang diperlukan adalah merupakan konsep yang salah, dan hal tersebut menjurus kepada dua kesulitan pokok. Yang satu adalah berlebihnya komunikasi pada satu titik waktu; dan yang lain merupakan kurangnya dialog antar arsitek. Sebab utama untuk mengendalikan dialog terletak pada kenyataan, bahwa setiap orang hanya sanggup mencernakan sejumlah informasi pada waktu tertentu. Usaha untuk membebani mereka terlalu sarat akan mengakibatkan hal-hal yang membingungkan dan hilangnya waktu yang secara sia-sia dipakai dalam setiap komunikasi antar arsitek. Lagi pula pengaruh kekuatan dari dialog harus dipertimbangkan yakni kemampuan untuk membangun pengertian dan kejujuran.

Adanya arus komunikasi yang tidak berencana dan semrawut disebabkan tidak dipertimbangkan fakta penting tersebut. Juga yang harus dihindari adalah perangkap pemikiran bahwa komunikasi antar arsitek adalah obat penawar sebagai ganti model kegiatan pencegahan. Sebagai contoh klasik dari penggunaan dialog untuk memadamkan api yang seharusnya tidak pernah ada ialah peristiwa pemogokan di¬ĚColorado Fuel and Iron Company di mana selama pemogokan telah dikerahkan barisan keamanan negara enam orang pemogok, dua orang wanita serta sebelas orang anak-anak meninggal dunia akibat huru-hara itu. Kemarahan publik menjadi sangat hebat; tetapi yang lebih serius adalah latar belakang persoalan tersebut yaitu adanya salah pengertian mengenai laba yang dibagi-bagikan kepada pemegang saham. Pemegang saham dan manajemen dikatakan sebagai penindas arsitek, karena ada sangkaan bahwa laba yang berlebih-lebihan telah diserahkan kepada mereka dan tidak dibagi-bagikan kepada arsitek dalam bentuk upah yang lebih tinggi.

Pada puncak ketidaksenangan itu diumumkanlah bahwa kelompok pemegang saham tidak menerima dividen selama empat belas tahun. Meskipun keadaan buruk, dialog sederhana ini dan pengertian yang diakibatkannya membawa hasil yang baik pemogokan dipelajari tanpa ada perasaan emosi yang meluap dan akhirnya pemogokan dapat didamaikan. Jika seandainya informasi mengenai ¬Ělaba itu dikomunikasikan lebih dahulu, pertumpahan darah mungkin dapat dihindarkan. Dan, jika program komunikasi antar arsitek secara cermat dilaksanakan sebelum terjadinya huru-hara, barangkali pemogokan tersebut tidak terjadi.

Banyak biro arsitek tidak meneliti apakah dialog efektif atau tidak. Pengukuran kualitas barangkali hampir tidak mungkin tapi mengukur bagaimana efektifnya suatu program adalah menciptakan pengertian mengenai hal khusus, dan sampai mana seseorang telah dimotivasi untuk mengikuti tindakan yang sebelumnya telah ditentukan. Penetapan sasaran dan kaitannya dengan rencana komunikasi membuat dialog itu menjadi praktis karena tidak hanya untuk mengetahui bagaimana dikomunikasikan, tapi juga membantu merumuskan secara cermat rencana masa depan. Lagi pula, biro arsitek cenderung untuk mengecilkan kekuatan sumber komunikasi. Terlalu sering bisikan dulang dari manajemen yang paling atas ke bawah melalui saluran formil seperti raungan singa, yang menghasilkun aktivitus yang tidak teratur dan yang mungkin tidak dimaksudkan oleh bisikan itu.

Pertimbangan yang cukup sebelumnya mengenai bagaimana mengkomunikasikan macam informasi tertentu dapat menguntungkan untuk meremehkan iklim dialog yang dapat diistilahkan dengan kuosien (hasil bagi) daya penerimaan. Dengan kata lain, bagaimana perasaan yang diharapkan, dari penerima berita atas subyek tertemu? Jika untuk menghilangkan atau membuat seminimum mungkin rintangan-rintangan sehingga pesan dapat diterima? Misalnya, apakah akan kita umumkan pemberhentian sebagian instalasi menjelang pemilihan NLRB; mengumumkan rencana penjualan baru, menjelang liburan biro arsitek. Komunikasi intern yang efektif bukan sesuatu yang mewah yang hanya dapat dimiliki oleh biro arsitek besar saja; ia adalah faktor yang diperlukan dalum manajemen yang sukses dari setiap biro arsitek. Dan menggunakan sistem dialog tidak memerlukan staf dalam jumlah besar yang hanya dapat diadakan oleh biro arsitek besar saja. Komunikasi yang efektif, pertama-tama adalah suatu pemikiran, suatu keinginan terus-menerus yang sadar dari manaje men untuk berkomunikasi secara efektif dalam konteks yang telah digariskan. Dan sistem dialog intern bisa dikembangkan untuk keserasian dengan kebutuhan manajemen dari setiap organisasi biro arsitek, jika ada pengertian dan pengakuan yang jujur akan kebutuhan itu.

Pada waktu ini banyak terdapat kekuatan yang membuat komunikasi intern secara efektif semakin diperlukan. Beberapa telah jelas tampak; yang lainnya mulai diakui. Sudah pasti yang paling jelas dari faktor ini adalah pertumbuhan intern yang hebat dari organisasi biro arsitek. Karena biro arsitek berkembang, jalur dialog bertambah panjang (dan kadang-kadang menjadi lebih lemah) lebih kompleks (dan kadang-kadang menjadi samar-samar). Pertumbuhan membawa peningkatan dari jumlah orang yang berusaha melakukan komunikasi antar arsitek; dan bertambah besarnya pula jumlah orang yang akan diajak untuk berkomunikasi.

Dahulu ada masanya sewaktu rata-rata para eksekutif dapat berkomunikasi sehari-hari dengan setiap orang yang digajinya dengan jalan memeriksa seluruh pabrik dalam waktu kurang lebih dari tiga puluh menit. Ini adalah sangat efektif karena dialog antar arsitek itu mempunyai mekanisme yang tidak terdapat dalam memo, majalah, papan pemberitahuan, ataupun pidato. Akan tetapi, pertumbuhan dan kompleksitas industri walaupun memiliki semuanya itu tetapi menghilangkan pendekatan sederhana tersebut.

Faktor pokok kedua yang semakin menambah perlunya akan dialog antar arsitek adalah kecenderungan pada operasi yang didesentralisasi. Desentralisasi baik dalam konotasi (dalam arti kata) desentralisasi pabrik secara phisik dan desentralisasi wewenang dalam pengambilan keputusan adalah faktor-faktor karena ada kecenderungan untuk membatasi operasinya baik bagi unit pabrik maupun bagi manajer yang memperoleh wewenang yang didesentralisasikan. Tidak disangsikan bahwa hal tersebut merupakan kecenderungan yang wajar dan, dalam beberapa hal, bahkan merupakan kecenderungan yang sehat, tapi hal tersebut mempunyai efek negatif yakni menghalangi komunikasi antar arsitek terutama dari atau menuju operasi yang didesentralisasikan. Karena itu juga sering ada keinginan yang kerap tidak dikenali dari pihak pegawai di semua tingkat untuk mengetahui di mana mereka merupakan bagian misalnya untuk mengerti apakah produk dari biro arsiteknya, apa sifat produk tersebut, dan siapa pembelinya dan sebagainya.

Organisasi biro arsitek, yang mengecewakan keinginan tadi dengan tidak menghiraukan kesempatan nyata untuk menciptakan rasa setia melayani pengertian, akan kehilangan kesempatan utama, dan masih banyak lagi manajer yang menganggap bahwa dialog hanya dapat digunakan sebagai alat untuk menyebarkan informasi yang ingin mereka distribusikan, dibanding sebagai alat penyebaran fakta yang perlu diketahui menurut anggapan jujur dari para pegawai. Sebab terakhir yang mendasari perlunya akan komunikasi dalam biro arsitek yang lebih efektif adalah adanya persaingan dalam waktu dan perhatian dari semua pegawai pada masa kini.
Home
articles
architecture intro architecture price architecturearticles archi tecture news architecture gallery interior intro interior interior price interior articles interior news interior gallery about us company profile why us order procedure faqs contact us english articles directory category link exchange english articles
Pentingnya Dialog dan Komunikasi Antar Arsitek