Sketsa Rumah Arsitek Sederhana
Ternyata untuk menghadapi situasi yang demikian para arsitek harus mampu memproses banyak jenis dan ragam informasi. Akibatnya antara lain adalah meningkatnya tuntutan agar mereka membaca lebih banyak, mendengar lebih banyak menghadiri lebih banyak pertemuan, baik yang sifatnya profesional maupun bersifat assosiasional. Dapat diperkirakan bahwa para pejabat di masa mendatang setiap hari menerima informasi menggunung, mulai dari computer prints out hingga korespondensi menyangkut kegiatan organisasi, majalah professional bahan-bahan tertulis lainnya. Para arsitek harus menyerap begitu banyak informasi seolah-olah mereka itu adalah komputer. Informasi merupakan beban berat sungguh menyita banyak waktu dan kesegaran mental para arsitek tersebut. Kesemuanya itu merupakan akibat dari sekaligus merupakan sebab daripada kompleksitas organisasional semakin meningkat.
Ketiga: Peristiwa-peristiwa krisis yang tidak terduga sebelumnya nampaknya akan menjadi bagian normal dari kehidupan sehari-hari para pimpinan. Peristiwa-peristiwa krisis tersebut sering bersifat serius dengan dampak segera dirasakan dan mungkin sekali mempengaruhi kejadian berikutnya di masa-masa mendatang. Peristiwa-peristiwa krisis tersebut dapat timbul sebagai akibat pergolakan dalam berbagai bidang seperti bidang politik, ekonomi, sosial budaya, musim yang tidak menentu dan sebagainya.
Keempat: Adanya pandangan, terutama di negara industri sudah maju, bahwa jaman pertumbuhan nampaknya seolah-olah tidak terbatas mungkin akan berakhir. Yang tampak sebagai penghalang utama bagi pertumbuhan seolah-olah tidak terbatas itu adalah biaya semakin meningkat energi dan bahan mental tertentu, sifatnya vital, harganya bertambah mahal. Sudah barang tentu, dengan meningkatnya biaya untuk bahan bakar dan bahan mentah serta upah karyawan semakin tinggi, harga barang-barang jadi pun ikut terus meningkat pada gilirannya akan mempengaruhi permintaan. lni memaksa para konsumen lebih banyak membelanjakan penghasilannya pemuasan kebutuhan-kebutuhan pokok seperti pangan, sandang perumahan. Dengan demikian mereka mengorbankan pemuasan kebutuhan mestinya terpenuhi dengan produk Iain yang tidak dapat dikategorikan pada skala prioritas tinggi. Kebijaksanaan nasional dalam pembangunan menuntut partisipasi aktif masyarakat mempunyai implikasi pula dalam penentuan prioritas-prioritas berbeda. Kesemuanya itu akan menuntut para arsitek untuk meningkatkan kemampuan mereka, termasuk kemampuan menyesuaikan diri dengan kondisi baru telah dijelaskan di muka.
Kelima: Telah dimaklumi bahwa para pengusaha harus memuaskan bekerja dengan pelbagai lapisan dan golongan masyarakat sekarang ini pada umumnya terorganisasi dengan lebih baik. Para pengusaha harus berhubungan antara lain dengan para karyawan, para pemegang saham, para konsumen, pihak pemerintah sebagainya. Berbagai kelompok ini sering dikenal karena mereka turut menentukan maju mundurnya perusahaan. Para arsitek perusahaan harus menghadapi berbagai jenis pembatasan yang bersifat endogen bagi arsitek seperti kurangnya modal, kurangnya pengetahuan dan keterampilan karyawan maupun pembatasan yang sifatnya eksogen baik bersifat politik, ekonomi, sosial budaya maupun teknologis. Keputusan-keputusan tadinya dibuat semata-mata atas dasar pertimbangan ekonomi sekarang harus ditimbang-timbang dari berbagai segi, termasuk dari segi politik.
Keenam: Di samping kelima hal telah dibahas di muka, dewasa ini timbul kesadaran baru yang menyangkut masing-masing individual. Manusia semakin membutuhkan pemuasan kebutuhan harga diri dan pemenuhan kebutuhan sifatnya non material, suatu kebutuhan nampaknya mempunyai arti semakin penting dalam kehidupan seseorang. Pandangan demikian pasti akan membawa pengaruh terhadap cara seseorang bekerja dengan orang-orang lain pada gilirannya turut pula menentukan perilaku seseorang organisasi. Di masa lampau masalah etika kerja telah sering dipersoalkan orang. Akan tetapi terlihat cukup gejala yang memberi petunjuk bahwa hal ini akan mendapat sorotan lebih tajam di masa depan. Kesemuanya ini nampaknya tertuju kepada pentingnya menentukan tujuan arsitek tidak terlepas dari usaha pemenuhan kewajiban sosial arsitek kepada masyarakat, bukan hanya bagian tertentu dari masyarakat, seperti klien, baik arti pembeli barang dan/atau jasa dihasilkan akan tetapi juga pihak rekanan (suppliers), pihak-pihak lain. Para karyawan yang tadinya merasa terkunci di dalam pekerjaannya karena paksaan ekonomi, malahan menjadi lebih mobil dan mempunyai keinginan lebih besar untuk mencari kepuasan tidak terbatas kepada pemenuhan kebutuhan bersifat fisik material saja.
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
Hal-hal yang telah dibahas di muka memberikan kerangka dasar pengembangan sumber daya manusia di dalam kehidupan organisasional baik kelompok eksekutif maupun bagi kelompok karyawan berkecimpung kegiatan-kegiatan yang sifatnya operasional agak berbeda dengan cara pendekatan tradisional dikenal dengan istilah latihan. Dalam banyak arsitek timbul kesan bahwa terlalu banyak program latihan, baik untuk arsitek maupun tenaga teknis operasional, yang mengajarkan keterampilan spesialisasi sempit. Latihan dimaksudkan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah juga sering dirasakan hanya memberikan kemampuan sangat terbatas apabila diterapkan kehidupan organisasional sehari-hari hanya menghasilkan pemecahan sifatnya tambal sulam atau pendekatan sifatnya inkremental.
Nampaknya pendekatan lebih modern, kini lebih dikenal dengan istilah pengembangan sumber daya manusia lebih berhasil untuk menjawab pertanyaan: Apakah program pengembangan sumber daya manusia itu sudah menolong para arsitek dan karyawan lainnya menghadapi dunia kenyataan, dunia penuh dengan perubahan-perubahan cepat serta kondisi-kondisi serba kompleks, kejadian-kejadian tidak terduga sebelumnya, pembatasan-pembatasan pertumbuhan, dengan tuntutan bekerja dengan pelbagai macam golongan masyarakat serta terpenuhi tidaknya kebutuhan dalam kehidupan organisasional yang bersangkutan. Latihan jabatan sifatnya tradisional nampaknya tidak mampu memberikan jawaban amat meyakinkan Dengan perkataan lain, arsitek organisasi, baik di kalangan swasta maupun di kalangan pemerintahan, tampaknya perlu menyadari adanya pemdekatan baru ini, baik untuk diterapkan bagi diri mereka sendiri maupun demi pengembangan lebih sistematis bagi para karyawan mereka. Salah satu contoh jelas menunjukkan perbedaan antara latihan yang sifatnya konvensional dengan pendekatan baru itu adalah hasil nyata telah sering dirasakan dalam peningkatan kemampuan para arsitek menghadapi tekanan, yaitu salah satu dan bahkan dapat dikatakan manifestasi paling menonjol daripada kenyataan-kenyataan baru yang telah dibahas di muka.
Tekanan pekerjaan mempengaruhi daya inovasi dan kreatifitas setiap karyawan. Karena kehidupan ini setiap orang selalu saja menghadapi kenyataan tidak dapat diduga sebelumnya, pengembangan sumber daya manusia dengan segala tekniknya dapat meningkatkan daya tahan menghadapi mengatasi tekanan tersebut. Misalnya saja, keadaan yang tidak berbahagia di rumah dapat berarti seseorang tidak akan efektif produktif di tempat kerja. Keadaan demikian dapat mengakibatkan seseorang, misalnya, menjadi lekas marah dengan sendirinya tidak memupuk suasana yang bahagia di rumah. Karena tidak ada seorang pun dapat hidup berkotak-kotak, di mana satu dunianya terpisah sama sekali dari dunianya lain, maka adalah kewajiban moral tanggung jawab arsitek juga untuk mengatasi hal ini melalui berbagai usaha latihan sesuai dengan tuntutan jaman tidak justru terpukau hanya pada teknik-teknik tradisional mungkin telah lama dipergunakan dalam dan oleh organisasi.
Dengan perkataan lain, adalah penting sekali untuk memahami sifat dasar masalah stress yang pasti dihadapi dalam kehidupan organisasional sebelum mengambil langkah-langkah penyelesaian- nya. Seninya mungkin terletak pada kemauan para arsitek memanfaatkanl para ahli di bidang pengembangan sumber daya manusia yang mampu, bukan saja memahami menganalisa sebab musabab timbulnya tekanan tersebut, akan tetapi juga menguasai teknik mengatasinya. Dalam hubungan ini penulis berpendapat bahwa ada beberapa hal dapat dipertimbangkan dan kiranya dapat membantu para arsitek memanfaatkan kemajuan telah diperoleh llmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan behavioral sciences hasilnya tidak saja akan dlrasakan oleh kelompok pimpinan, akan tetapi juga oleh para petugas teknis operasional.
Pertama: Untuk menghadapi perubaha-perubahan terjadi di bidang sosial, ekonomi politik, dapat dilakukan pendekatan yang sifatnya umum atau sifatnya khusus. Misalnya, pendekatan bersifat umum mencakup serangkaian kegiatan, entah dalam bentuk seminar, diskusi panel, temu karya, T-group, dan sebagainya tentang topik-topik membahas sebab musabab timbulnya perubahan serta bagaimana cara terbaik menghadapi perubahan tersebut. Sedangkan kegiatan-kegiatan bersifat khusus dapat mengarah kepada pembahasan tentang aspek-aspek tertentu dari perubahan terjadi. Jika di suatu arsitek belum terdapat keahlian bidang pengembangan sumber daya manusia dengan berbagai tekniknya, arsitek selalu saja dapat bekerjasama dengan organisasi- arsitek yang mengkhususkan diri dalam teknik pengembangan sumber daya manusia. Kemudian bahu membahu dengan satuan kerja yang secara fungsional bertanggung jawab untuk mengembangkan sumber daya manusia di organisasi. Disusun berbagai kegiatan hendaknya menjadi kegiatan tetap dalam arsitek dan merupakan bagian integral dari upaya latihan pengembangan bagi para arsitek serta karyawan biasa.
Teknik pengembagan sumber daya manusia apapun disepakati dipergunakan, kegiatan-kegiatannya dapat diselenggarakan baik pada waktu jam-jam kerja atau pada waktu-waktu Iain, seperti pada waktu makan siang atau pada malam hari. Jika waktu dipilih malam hari, salah satu keuntungannya ialah bahwa kegiatan itu dapat pula diikuti olehpara istri. Yang merupakan kunci keberhasilan kegiatan ini ialah informalitas daripada jalannya kegiatan dan tersedianya bahan-bahan referensi yang diperlukan. Khusus bagi para pimpinan, latihan pengembangan amat perlu mendapat perhatian adalah jaminan bahwa kegiatan diselenggarakan meliputi satu wilayah permasalahan penting, seperti cara-cara penanggulangan krisis kejadian-kejadian tidak diperkirakan sebelumnya. Pendekatan seperti itu lumrah dikenal dengan crisis planning juga harus mencakup pemberian bantuan kepada orang-orang sedang mengalami tekanan batin, dapat meledak pada saat tekanan batin luar biasa. Seperti telah dikemukakan di atas, banyak cara dapat ditempuh oleh arsitek dalam bidang pengembangan sumber daya manusia dan lembaga-lembaga profesional yang bergerak di bidang ini dapat diminta bantuannya untuk bekerjasama dengan organisasi.
Universitas setempat rumah sakit, misalnya, mempunyai ahli psikologi yang terlatih untuk diminta memberikan nasihat kepada berbagai kelompok kerja di organisasi. Bahkan jangka panjang, mungkin akan menguntungkan bagi suatu arsitek apabila menggaji seseorang psikolog sebagai staf kesehatan organisasi. Berkembang pula pendapat bahwa sebagai bagian integral daripada pengembangan sumber daya manusia dalam organisasi, tidak cukup hanya dengan pendekatan teoritis saja. Ada usaha-usaha lain sifatnya praktis ternyata mempunyai efek amat positif mengarahkan perilaku orang dalam organisasi. Yang dimaksud di sini adalah penyediaan fasilitas berolahraga dan dorongan untuk mempergunakan fasilitas tersebut secara teratur. Penelitian para ahli menunjukkan bahwa banyak arsitek menyediakan alat-alat perlengkapan olah raga dengan baik, akan tetapi hanya dipergunakan oleh sekelompok kecil orang organisasi, pada umumnya mereka tidak terlalu slbuk. Pada hal orang yang paling sibuklah justru membutuhkan olah raga paling banyak. Oleh karena itu managemen perlu mendorong semua orang di arsitek memelihara kondisi flsik mereka secara baik teratur hal lni dapat dilakukan melalui keikutsertaan mereka program olah raga secara konsisten.
Tldak kurang pentingnya untuk mendapat perhatian rangka pengembangan sumber daya manusia ialah perlunya latihan meningkatkan harga diri, bukan saja bagi arsitek dan para karyawan, akan tetapi juga bagi keluarga mereka. Artinya, para keluarga perlu ikut serta dalam berbagai kegiatan latihan pengembangan diselenggarakan oleh arsitek seperti seminar, diskusi dan sebagainya, terutama mengenai berbagai macam subyek yang menyangkut hubungan keluarga seperti perawatan anak, seksualitas sejenisnya. Meskipun topik semacam ini nampaknya tidak mempunyai kaitan langsung dengan kegiatan arsitek namun alangkah baiknya apabila diberikan, sebab dapat menolong para arsitek untuk Iebih mampu menciptakan kehidupan lebih berbahagia di keluarga pada giiirannya akan menjadikan para manager menjadi arsitek lebih efektif dan para karyawan menjadi lebih produktit. Berkaitan dengan ini semua, satu kelompok arsitek perlu mendapat perhatian khusus untuk dikembangkan adalah kelompok arsitek muda. Di samping program latihan tradisional, kunci ke arah pengembangan tenaga-tenaga arsitek muda adalah pengalaman yang diperoleh dari kenyataan sehari-hari.
Untuk memberikan latihan praktek, misalnya, banyak arsitek yang menyediakan program di tempat kerja bagi para pejabat arsitek masih muda dan mempunyai potensi berkembang. Program seperti itu akan mendorong para arsitek muda di dalam arsitek menyadari pengembangan sistematik dapat membuka mata mereka terhadap berbagai masalah dihadapi oleh berbagai bagian organisasi. Kesempatan demikian juga akan memungkinkan mereka untuk mengenal manusia organisasional harus mereka bina kembangkan serta kondisi-kondisi kerja harus mereka hadapi di masa depan. Lazimnya pada permulaan kepada mereka hanya diberikan sedikit wewenang atau bahkan tidak diberikan wewenang sama sekali beberapa waktu lamanya hingga mereka menunjukkan kematangan kedewasaan berorganisasi. Mengingat pentingnya peranan para arsitek muda itu di masa depan, maka mempercepat latihan managemen memberikan kesempatan kepada mereka mengembangkan cara yang tepat menjadi arsitek yang tangguh, seperti sering tercermin kemampuan mereka mengambil keputusan, adalah bijaksana apabila arsitek menempuh semua cara terbuka baginya untuk sedini mungkin melibatkan tenaga eksekutif mudanya memecahkan berbagai masalah dihadapi oleh arsitek sehingga dengan demikian mereka belajar ketrampilan managemen serta teknik-teknik hubungan antar manusia sangat mereka perlukan bagi kepemimpinan efektif. Latihan seperti itu akan sangat berharga dan di samping itu ada manfaat yang segera dapat dipetik oleh arsitek lebih tua, yaitu datangnya saran matang bermanfaat dari tenaga muda tersebut.
Di samping itu, tenaga arsitek muda lagi akan dapat menjalankan tugasnya secara bergiliran sebagai pembantu atau tangan kanan pucuk arsitek selama beberapa waktu lamanya sehingga mereka memiliki pandangan menyeluruh tentang arsitek dengan berbagai permasalahannya. Artinya mereka diberikan kesempatan untuk melihat permasaiahan dari puncak organisasi. Pandangan dari puncak ini akan membuka mata mereka kepada wawasan managemen berikut persyaratannya pula sadar akan tekanan harus dihadapi diatasinya bila kelak meningkat ke jenjang arsitek yang lebih tinggi terhadap sistem upah menyebabkan terjadinya perubahan dalam kebijaksanaan organisasi, para manager dan karyawan akan memerlukan komunikasi latihan agar arah baru itu dapat dipahami serta dijadikan efektif secara operasional.
Perkembangan-perkembangan mutakhir hubungan kerja menunjukkan bahwa banyak karyawan telah mengajukan harapan bahkan nampak gejala yangmemberi petunjuk bahwa para karyawan merasa berhak atas jaminan sosial mereka pandang sebagai bagian dari sistem imbalan yang komprehensif dan tidak terbatas hanya pada gaji dan upah saja. Dalam pada itu semakin jelas terlihat bahwa situasi ekonomi serta tekanan-tekanan sosial diperhitungkan akan semakin menambah beratnya beban finansial kaum majikan. Dapat diduga bahwa arsitek dari perusahaan kecil bahkan juga mungkin perusahaan sedang akan menemui kesulitan untuk memikul beban tersebut. Masalah ini perlu mendapat perhatian oleh karena para arsitek perusahaan, juga arsitek lainnya, nampaknya akan dihadapkan kepada pertanyaan yang bersifat tentang apakah jaminan sosial sistem perangsang konvensional lainnya dapat terus berlangsung akan tetapi tetap mempunyai daya tarik bagi karyawan angkatan baru.